Minggu, 13 November 2016

ASGARDIA, Negara Pertama di Luar bumi

Ini bukan cerita fiksi ilmiah, Asgardia merupakan koloni pertama manusia di luar angkasa. Berikut data dan fakta yang berhasil dikumpulkan detij.com terkait negara Asgardia.

Nama Asgardia diambil dari mitologi kuno eropa, yaitu kota kuno yang dikuasai olah dewa Odin yang terletak bukan di bumi melainkan di angkasa. Sesuai dengan namanya, proyek Asgardia diprakarsai oleh sejumlah ilmuwan, pebisnis, dan para pengacara. 


Berdasarkan penjelasan dalam situs resmi Asgardia, negara itu akan menjaring kewarganegaraan secara terbuka. Setiap manusia yang ingin menjadi warga asgardia diperbolehkan mendaftar pada website resmi tersebut untuk selanjutnya diseleksi oleh otoritas yang berwenang untuk selanjutnya ditetapkan sebagai warga Asgardia. 

Asgardia digagas oleh Igor Ashurbeyli, ilmuwan angkasa sekaligus insinyur Rusia yang pada 2013 lalu mendirikan Aerospace International Research Center (AIRC) di Wina, Austria. Dalam jumpa pers di Paris pada Rabu 12 Oktober 2016, Ashurbeyli mengatakan, "Unsur ilmiah dan teknologis proyek ini bisa dijelaskan dalam 3 kata, yaitu perdamaian, akses, dan perlindungan."

Meski mengaku sebagai negara, Asgardia belum memiliki bendera, lagu kebangsaan, atau lambang resmi. Pembuatan perangkat itu masih dalam proses, dalam tahap kompetisi.

Juga belum jelas mengenai jenis pemerintahannya, apakah demokratis, kerajaan, atau yang lainnya -- seperti digariskan dalam 'konstitusi' Asgardia.

Sementara, untuk warga negaranya, negara baru tersebut mengundang semua orang untuk bergabung. "Semua manusia hidup di Bumi bisa jadi warga negara Asgardia," demikian tertera dalam situs resmi.

Para pendaftar diminta mengisi formulir yang terdiri atas nama, alamat email, negara asal, dan pernyataan sudah berusia 18 tahun. Rincian soal kewarganegaraan kemudian akan dikirim ke alamat surat elektronik.

Hingga Jumat malam, 14 Oktober 2016, jumlah pendaftar mencapai 175.770. ""Hanya 40 jam setelah aku mengumumkan lahirnya sebuah negara baru Asgardia, sebanyak 100 ribu orang dari lebih dari 200 negara di dunia telah mendaftarkan diri," kata Igor Ashurbeyli.

"Kami terus melanjutkan proses registrasi, hingga tercapai target 1 juta orang. Tak lama lagi, kita akan menjadi anggota PBB.

Asgardia belum diakui satu negara manapun di dunia ataupun oleh PBB.

Tujuan utama Asgardia adalah menciptakan 'pelindung' yang membentengi Bumi dari ancaman kosmis, seperti asteroid, badai matahari, maupun puing-puing angkasa yang rentang menembus atmosfer.

Gagasan itu sungguh ideal. Sebab, hingga saat ini, lembaga antariksa paling top dunia belum mengetahui bagaimana mencegah satelit mereka bertabrakan, apalagi menghentikan sebuah batu angkasa menabrak Bumi.

Satelit pertama Asgardia kabarnya akan diluncurkan dalam 18 bulan. Kelompok tersebut belum menguak soal pendanaan.

Ashurbeyli, yang juga pengusaha, diyakini menyediakan sejumlah besar modal untuk meluncurkan proyek tersebut. Belum jelas dari mana dana besar untuk mempertahankan misi yang pastinya tak murah itu bakal datang.

"Tujuan utamanya adalah untuk menciptakan sebuah platform legal untuk menjamin perlindungan pada Bumi dan menyediakan akses teknologi antariksa bagi mereka yang belum punya akses saat ini," kata Ashurbeyli kepada Guardian.

Masalahnya, karena belum punya wilayah untuk peluncuran wahana angkasa, belum jelas caranya bisa mengirim satelit tanpa berada di bawah kendali suatu negara sebagaimana termaktub
dalam Perjanjian Angkasa Luar.

Beberapa pihak masih meragukan kebenaran proyek ambisius itu, terutama bagaimana wahana buatan manusia di luar angkasa dapat menyokong kehidupan jutaan manusia. Belum lagi mengenai cara memobilisasi "warga Asgardia" dari bumi ke negara barunya.