Minggu, 13 November 2016

Teror Bom Gereja samarinda, Residivis Bom Serpong?

Polisi berhasil menangkap dan mengidentifikasi terduga pelaku pelemparan bom molotov di depan Gereja Oikumene Samarinda Kalimantan Timur. Terduga berinisial J diketahui merupakan salah seorang narapidana kasus terorisme pengeboman BPPT Serpong pada medio 2011 lalu.
Dalam keterangan persnya, Kapori Jenderal Tito Karnavian mengungkap pelaku pelempar bom molotov di depan Gereja Oikumene  itu telah ditangkap beberapa saat setelah kejadian. 

Terdakwa kasus bom di Puspitek Serpong Tangerang 2011 lalu saat mengikuti sidang.
Pelaku adalah mantan napi yang terkait jaringan bom buku di Jakarta tahun 2011 silam.
“Pelaku sudah ditangkap. Napi kasus teror bom Puspitek di Serpong dan terkait bom buku di Jakarta 2011,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian kepada wartawan, Minggu (13/11/2016).

Kapolri menuturkan pelaku bernama inisial J juga tergabung dalam jaingan teroris. “Dia gabung dengan kelompok JAT, kita akan kembangkan,” katanya.

Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan J terkait bom Puspitek Serpong dan kelompok Pepy Fernando.

Beberapa saat setelah melemparkan bom molotov, pelaku yang tinggal tak jauh dari gereja sempat melarikan diri ke Sungai Mahakam. Tetapi warga sekitar yang mengetahui hal itu langsung menangkapnya dan menyerahkan terduga yang berasal dari Bogor itu ke Polsek Samarinda Seberang.

Ledakan tersebut mengakibatkan 4 korban luka-luka yang semuanya anak-anak. Selain itu bberapa unit sepeda motor milik jemaat hangus terbakar. Seluruh korban mengalami luka bakar, berikut datanya:
  1. Anita Christabel (2) beralamat di Kelurahan Harapan Baru, Samarinda. Anita mengalami luka bakar di badan.
  2. Alfarou Sinaga (4), berlamat di Kelurahan Loa Janan, mengalami luka bakar.
  3. Triniti Hutahaean (3) beralamat di Kelurahan Harapan Baru, Samarinda, juga mengalami luka bakar.
  4. Intan Olivia Banjarnahor (3,5) beralamat di Kelurahan Harapan Baru yang mengalami luka bakar

Pada tahun 2011 lalu diketahui gembong teroris bom buku, Pepi Nugroho, juga menyasar Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) yang berlokasi di Serpong, Tangerang. Pepi mempunyai alasan tersendiri mengapa ia menjadikan Puspitek sebagai salah satu targetnya.

“Dia memperkirakan di Puspitek ada nuklir. Dia ingin menunjukkan bahwa dia bisa menerobos pengamanan di Puspitek,” kata Jaksa Penuntut Umum Bambang Suharijadi, dalam persidangan terdakwa Pepi di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis 3 November 2011.

Bom tersebut kemudian meledak di depan Puspitek pada Jumat 18 Maret 2011 lalu. Namun tidak ada korban jiwa dalam ledakan tersebut. “Bom itu menggunakan remote penghubung dengan handphone,” terang Bambang.

Pepi Fernando, dalang teroris bom buku itu, adalah lulusan S1 UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Fakultas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Islam. Ia adalah lulusan tahun 2001. Ia juga dikenal sebagai penulis buku dan skenario film. Sementara perannya dalam aksi bom buku ini adalah sebagai “pimpinan kelompok dan pencetus ide bom buku,” kata Bambang.